Capres Memerlukan Data Statistik

Oleh J Supranto (Pengarang beberapa buku Statistik di Indonesia)

PEMILIHAN calon presiden putaran kedua mengingatkan pengalaman penulis kurang lebih 40 tahun yang lalu. Sewaktu penulis belajar di Amerika Serikat, penulis bertemu seorang mahasiswa Indonesia yang sudah agak lama tinggal di Amerika Serikat (AS) belajar ilmu politik (political science). Walaupun baru saja bertemu, sudah cukup akrab seperti kawan lama.

Mahasiswa itu bertanya kepada saya, “Mau belajar apa kamu di sini?” Saya jawab, “Statistik!” Dengan sinisnya dia berkomentar, menurut hasil jejak pendapat (polling opinion), Kennedy akan kalah melawan Nixon (data statistik dalam bentuk persentase). Ternyata Kennedy yang terpilih menjadi presiden. Lalu apa kegunaan data statistik itu?

Dengan bekal pengetahuan statistik dari Akademi Ilmu Statistik (AIS), akademi kedinasan yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik, penulis mencoba memberikan jawaban kepada mahasiswa yang belajar ilmu politik tersebut.

Data statistik itu ada yang disebut cross section, yaitu data yang dikumpulkan pada suatu waktu tertentu (at a point of time) untuk menggambarkan keadaan pada waktu yang bersangkutan. Bersifat statis untuk melihat perbedaan (differences). Sensus penduduk yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, sepuluh tahun sekali, pada tahun tertentu memberikan gambaran tentang penduduk pada tahun yang bersangkutan.

Kemudian ada data time series, data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk mengetahui perkembangan suatu kegiatan atau kejadian. Bersifat dinamis untuk mengetahui perubahan. Kejadian di dunia ini selalu berubah, tidak ada yang pasti. Justru yang pasti ialah terjadinya perubahan itu sendiri.

Teknologi berubah, pendapat orang berubah, lingkungan berubah, selera pemilih berubah artinya dulu waktu pemilihan umum memilih partai A. Perbedaan atau per-ubahan itu menyebabkan variasi dan variasi ini yang menyebabkan peramalan menjadi sulit. Menjadi tidak tepat dan menimbulkan risiko sehingga dikembangkan risk management dan management of change yang probabilistis sifatnya, menyangkut hal-hal yang tidak pasti (uncertain event).

Berdasarkan kuliah singkat tentang data statistik tersebut lalu penulis mencoba menjawab pertanyaan mahasiswa ilmu politik tersebut. “Yang saya ketahui, sewaktu kampanye pemilihan umum di Amerika Serikat, Kennedy mengetahui bahwa menurut hasil jajak pendapat, persentase penduduk yang akan memilih Nixon menunjukkan angka yang lebih besar dari pada angka persentase untuk kennedy, maka Kennedy membuat strategi jitu, yaitu menantang Nixon untuk berdebat di televisi untuk adu program.

Kennedy politisi muda yang ganteng, sebagai senator, anggota kongres terkenal, lincah, cerdas, dari keluarga kaya dan terkenal, sedangkan Nixon lebih tua dan kalah ganteng. Pada waktu penayangan di televisi, Kennedy kelihatan lebih menarik lebih simpatik, lebih mempesona para calon pemilih. Setelah perdebatan pasti terjadi pergeseran pemihakan, artinya yang semula akan memilih Nixon kemudian beralih akan memilih Kennedy sebagai presiden Amerika Serikat.”

Lalu penulis katakan dengan pasti, kalau setelah dilakukan pendekatan adu program di televisi, kemudian segera dilakukan jajak pendapat, angka persentase penduduk yang semula memilih Nixon sebagai presiden akan mengecil, dan angka persentase untuk Kennedy akan lebih besar.

Ini berarti Kennedy, sebagai seorang calon presiden, bisa menggunakan data statistik dengan baik. Keadaan masa depan bisa berubah dan Kennedy mampu melakukan perubahan sesuai dengan yang dia kehendaki, yaitu menaikkan angka persentase penduduk yang akan memilh dia sebagai presiden dengan mempengaruhi para pemilih, agar bisa bergeser yang semula memilih Nixon kemudian memilih Kennedy. Ternyata data statistik memang berguna dan diperlukan oleh para politisi pada umumnya dan calon presiden pada khususnya.

Sebagai Dasar 

Dengan jawaban yang penulis berikan, mahasiswa yang mempelajari ilmu politik di AS itu kemudian menyadari bahwa statistik itu memang penting. Bukan hanya diperlukan oleh para politisi sebagai caleg atau capres untuk mengetahui persentase para pendukungnya yang memang bisa berubah dari waktu ke waktu, akan tetapi juga diperlukan oleh para pejabat pemerintah, penegak hukum dan pengusaha untuk dasar pengambilan keputusan.

Pengumpulan data tidak cukup hanya satu kali saja akan tetapi harus diulangi dari waktu ke waktu, agar diperoleh data time series yang dapat menunjukkan kecenderungan (trend), merupakan indikator yang penting. Masalahnya apakah indikator tersebut bisa dimanfaatkan sebagai masukan (input) yang berguna bagi para pengambil kebijaksanaan (policy maker)?

Data time series sebagai indikator dalam bidang politik, misalnya jumlah penduduk yang sudah mencapai usia sebagai pemilih dalam pemilihan umum, jumlah pemilih menurut partai secara nasional dan daerah/ provinsi.

Dalam pemerintahan seperti jumlah penduduk miskin, pendapatan nasional, ekspor nasional, investasi nasional, pendapatan per kapita. Dalam perusahaan: jumlah laba, jumlah penjualan, pangsa pasar, persentase pelanggan tidak puas, dan sebagainya.

Statistik arti sempit, merupakan data ringkasan berbentuk angka seperti: jumlah rata-rata, presentase dan berbagai nilai koefisien, seperti koefisien regresi.

Sebagai data, berperan untuk menunjukkan masalah, seperti jumlah orang miskin yang selalu meningkat, presentase penduduk pendukung partai tertentu menurun, persentase golput meningkat, jumlah perkara di Mahkamah Agung menumpuk, rata-rata lamanya waktu penyelesaian proses perkara di (kepolisian, kejaksaan, pengadilan), jumlah penjualan perusahaan yang selalu menurun, presentase pelanggan suatu perusahaan yang tidak puas meningkat, jumlah ekspor nonmigas yang menurun.

Statistik dalam arti luas merupakan ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data, termasuk cara pengambilan kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian berdasarkan konsep probabilitas, sangat berguna sebagai alat penelitian (a tool of research).

Satu Per Satu

Kalau seluruh pemilih sebagai populasi ditanya satu persatu (dengan cara sensus), angka persentase yang diperoleh merupakan data sebenarnya atau parameter. Misalnya partai atau calon presiden A mendapat suara 60 persen, partai atau calon presiden B mendapat angka 40 pesen dan seterusnya.

Akan tetapi mengingat terbatasnya biaya, waktu dan tenaga dipergunakan teknik sampling, yaitu cara penelitian yang tidak menyeluruh, hanya meneliti sebagian elemen populasi yang disebut sampel dan data yang dihasilkan bukan data sebenarnya, tetapi data perkiraan (estimate) yang mengandung sampling error.

Sebagai syarat penelitian ilmiah (scientific research), agar kesimpulan yang ditarik bisa sahih (valid), sampel yang diteliti harus dipilih secara acak (random). Kemudian dibuat perkiraan interval yaitu perkiraan berupa interval yang dibatasi oleh nilai batas bawah (sebagai perkiraan rendah) dan batas atas (sebagai perkiraan tinggi), dan dengan tingkat keyakinan tertentu (a certain con- fident level) misalnya 95 persen.

Nilai sebenarnya (parameter sebagai karakteristik/populasi) terletak dalam interval tersebut, misalnya pemilih yang memilki partai atau calon partai A antara 55 – 65 persen. Jadi kenyataan sebenarnya bisa lebih kecil dari 55 persen atau lebih dari 65 persen dengan kesalahan sebesar 5 persen.

Dengan perkiraan interval, politisi bisa memasukkan unsur subjektivitas, artinya kalau politisi tersebut katakan, calon presiden, merasa pesimis akan memilih angka dekat batas bawah dan kalau optimis memilih angka dekat dengan batas atas, untuk dasar penyusunan strategi.

Data statistik seperti jumlah, rata-rata, presentase sebagai hasil jajak pendapat sangat berguna bagi para politisi atau para pengambil kebijaksanaan (policy maker) kalau diperoleh dengan menggunakan teknik statistik yang tepat.

Penulis sangat menyadari bahwa penggunaan teknik statistik yang tidak tepat bisa menimbulkan sampling errror yang besar, data perkiraan menjadi kurang akurat dan kalau dipergunakan untuk membuat keputusan akan menyesatkan (misleading). Pembaca supaya memahami bahwa Statistic doesn’t lie, but liar. Jadi statistik itu tidak bohong akan tetapi yang bohong orangnya (pembohong: liar).

Apakah peristiwa politik yang telah terjadi di Amerika Serikat bisa terjadi di Indonesia ? Artinya calon presiden yang berdasarkan hasil jajak pendapat mendapatkan angka presentase dari calon presiden lainnya bisa memenangkan pemilihan presiden, sehingga akan menjadi presiden selama lima tahun mendatang? Mari kita tunggu hasilnya dari pemilihan calon presiden putaran kedua nanti!

About Arif Kamar Bafadal

Dosen statistika dan operation research. Blog dibuat agar dapat berbagi pengetahuan tentang statistika dan operation research melalui pengalaman dan tulisan. Blog ini menyampaikan pesan "belajar lalu mengajar" agar selalu tercipta motivasi yang kuat untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan secara khusus pada bidang statistika dan operation research, agar para mahasiswa tidak terjebak dengan sesuatu yang terbatas.
This entry was posted in Kutipan Dari Tetangga. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s