Pengujian Hipotesis Statistik Dan Vonis Hakim

keadilanSiapa yang pernah datang ke ruang pengadilan? Tentu saja dengan tujuan ingin mendengarkan keputusan hakim atas sebuah perkara. Apa yang menarik? Dan apa hubungannya dengan pengujian hipotesis? Kesamaannya adalah teknik dan proses dalam mengambil keputusan dari hasil pengujian.

Perhatikan dengan baik bagaimana tahapan-tahapan hakim dalam memutuskan sebuah perkara pencurian. Pertama, apakah hakim mengetahui pasti bahwa terdakwa yang sedang duduk di depannya adalah seorang pencuri? Tentu hakim tidak tahu apakah orang tersebut seorang pencuri atau tidak. Pada titik ini hakim memilih untuk menganggap bahwa orang ini adalah bukan pencuri, atau biasa dikenal dengan sebutan praduga tidak bersalah.

Kedua, hakim akan mencermati seluruh barang bukti dan saksi yang dikenal dengan sebutan fakta persidangan. Fakta-fakta ini mengarah kemana, apabila dari pihak jaksa lebih kuat, maka hakim cenderung pada keputusan “memenjarakan”. Sebaliknya apabila pihak pembela yang lebih kuat, maka keputusan akan mengarah pada “membebaskan”.

Ketiga, apabila keadaan yang sesungguhnya pada terdakwa adalah bukan pencuri, dan kemudian hakim memberikna keputusan “membebaskan” karena fakta persidangan, maka dikatakan hakim memberikan keputusan yang benar. Sebaliknya apabila hakim memberikan keputusan “penjarakan”, maka hakim memberikan keputusan yang salah karena memasukkan ke dalam penjara seseorang yang tidak bersalah.

Keempat, konsep dan tahapan hakim dalam menjatuhkan keputusan adalah sangat kuat dipengaruhi oleh fakta persidangan yang dihadirkan dalam persidangan. Sehingga  dalam setiap keputusan, hakim akan selalu dibayang-bayangi oleh dua kesalahan : (1) memasukkan ke penjara seseorang yang tidak bersalah, atau (2) membebaskan seseorang yang bersalah.

Konsep yang ada di dalam pengujian statistika juga memiliki tahapan yang sama dengan keputusan hakim di pengadilan. Sebagai contoh sederhana akan dilakukan pembuktian fenomena bahwa prestasi mahasiswa ditentukan oleh berapa banyak buku teks kuliah yang dimiliki. Jumlah buku teks akan disebut sebagai variabel bebas (variabel X), sedangkan prestasi mahasiswa disebut variabel terikat (variabel Y). Pembuktian menggunakan analisis regresi akan diajukan hipotesis statistik :

H0       :  β = 0, melawan

H1       : β ¹ ≠ 0

Coba satu per satu akan dibanding proses keputusan dalam pengujian ini. Pertama, fenomena yang disebut itu mungkin benar (prestasi ditentukan oleh jumlah kepemilikan buku teks), mungkin juga salah  (prestasi tidak ditentukan oleh jumlah kepemilikan buku teks). Pada pilihan ini harus dipilih salah satu diantara dua ini sebagai asumsi awal. Proses penurunan rumus dalam pengujian akan lebih mudah dengan “menganggap” benar pada hipotesis null. Hal ini identik dengan konsep “praduga tidak bersalah”.

Kedua, dilakukan pengumpulan data dengan rancangan desain instrumen yang ketat sehingga seluruh hasil-hasil pengukuran yang teramati akan menjadi bahan-bahan utama dalam pengambilan keputusan. Hal ini identik dengan konsep “fakta persidangan”.

Ketiga, merancang penurunan rumus (biasanya pengguna statistik sudah tinggal menggunakan saja) untuk  mengambil keputusan. Data hasil pengamatan, CI1akan memberikan dua pilihan, yaitu : (1) “anggapan” benar pada hipotesis null, ternyata benar, sehingga akan memberikan kesimpulan bahwa jumlah kepemilikan buku teks tidak menentukan prestasi, atau (2) “anggapan” benar pada hipotesis null, ternyata salah, sehingga akan memberikan kesimpulan bahwa jumlah kepemilikan buku teks menentukan prestasi.

Keempat, dalam pengambilan keputusan, akan ada nilai alpha (α) sebagai sebuah besaran kesalahan bahwa “anggapan benar pada hipotesis null ternyata benar”. Sedangkan pada bagian lain akan menghasilkan nilai P atau p-value  sebegai sebuah besaran kesalahan bahwa “anggapan pada benar hipotesis null ternyata salah”. Inilah yang mendasari konsep teknis dalam pengujian statistik, bila p-value lebih kecil dari nilai alpha (α), maka hipotesis null akan ditolak, dan sebaliknya bila p-value lebih besar dari nilai alpha (α), maka hipotesis null akan diterima.

About Arif Kamar Bafadal

Dosen statistika dan operation research. Blog dibuat agar dapat berbagi pengetahuan tentang statistika dan operation research melalui pengalaman dan tulisan. Blog ini menyampaikan pesan "belajar lalu mengajar" agar selalu tercipta motivasi yang kuat untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan secara khusus pada bidang statistika dan operation research, agar para mahasiswa tidak terjebak dengan sesuatu yang terbatas.
This entry was posted in Regresi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Pengujian Hipotesis Statistik Dan Vonis Hakim

  1. .:: Ilmu Yang sangat super n bermanfaat,Terima kasih Bapak Arif ….

    Sukses Selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s